Minggu, 16 Oktober 2011

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri” (Rm 4:20-25; Luk 12:13-21)

“Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri”
(Rm 4:20-25; Luk 12:13-21)
“Seorang dari orang banyak itu berkata kepada Yesus: "Guru, katakanlah kepada saudaraku supaya ia berbagi warisan dengan aku." Tetapi Yesus berkata kepadanya: "Saudara, siapakah yang telah mengangkat Aku menjadi hakim atau pengantara atas kamu?" Kata-Nya lagi kepada mereka: "Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu." Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: "Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang,
tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.” (Luk 12:13-21), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.
Berrefleksi atas bacaan-bacaan serta mengenangkan pesta St Ignasius dari Antiokhia, uskup dan martir, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Anak-anak yang bersika mental materilistis ketika kedua orangtuanya telah meninggal dunia pada umumnya akan segera minta berbagi warisan, dan ada kemungkinan pembagian warisan tidak adil, sehingga ada yang protres serta minta bantuan orang lain atau mengeluh kepada Tuhan dalam doa-doanya, sebagaimana kata salah seorang dari orang banyak yang mendengarkan pengajaranNya berseru kepada Yesus “Guru, katakan kepada saudaraku supaya ia membagi warisan dengan aku”. Sikap mental anak-anak yang demikian itu kiranya merupakan warisan dari orangtuanya yang bersikap mental materilistis, maka kami berharap kepada para orangtua untuk tidak bersikap mental materialistis. Ingatlah dan sadari ketika meninggal dunia atau  dipanggil Tuhan aneka harta benda atau uang anda tidak akan dibawa serta, dan tentu akan menimbulkan masalah di antara anak-anak anda jika anda sendiri bersikap mental materialistis. Maka kami berharap anda sebagai orangtua sungguh “kaya di
hadapan Tuhan” artinya sungguh berbudi pekerti luhur, membaktikan diri sepenuhnya kepada Tuhan, bersikap social, dst.. Wariskan nilai-nilai atau keutamaan-keutamaan hidup yang membahagiakan dan menyelamatkan jiwa kepada anak-anak anda, bukan warisan berupa harta benda atau uang. Kebahagiaan sejati orangtua terjadi ketika anak-anaknya tumbuh berkembang menjadi ‘orang’, artinya hidup berbahagia dan damai sejahtera serta berbudi pekerti luhur karena didikan atau cintakasih dari orangtua. Marilah meneladan kemartiran St.Ignasius dari Antiokhia dengan sungguh hidup dan bertindak berdasarkan iman kita kepada Tuhan.
·   “Terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah, dengan penuh keyakinan, bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.Karena itu hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran” (Rm 4:20-22), demikian kata Paulus mengenangkan iman bapa Abraham. Kiranya dengan ini pula Paulus mengingatkan kita semua sebagai orang-orang beriman untuk tetap percaya dan setia pada janji Tuhan, meskipun untuk itu harus menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan. Hendaknya kita tidak pernah bimbang menghadapi aneka tantangan, hambatan atau masalah yang muncul karena kesetiaan pada iman, panggilan atau tugas pengutusan, melainkan tetaplah gembira dan bergairah atau bersemangat, karena dengan demikian anda akan memiliki kemampuan yang diteguhkan oleh Tuhan untuk mengatasi masalah, tantangan atau hambatan tersebut. Jika kita tetap gembira dan bergairah, maka kinerja
syaraf dan metabolism darah kita berjalan secara baik dan optimal, sehingga kita memiliki ketabahan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan, hambatan atau masalah. Sebagai orang beriman tidak alasan untuk tidak gembira atau bergairah, karena Tuhan senantiasa menyertai dan mendampingi atau menjiwai diri kita yang lemah dan rapuh ini. Wujudkan iman anda kepada Tuhan dengan hidup dan bertindak dalam Tuhan, sehingga bersama dan bersatu dengan Tuhan segala sesuatu menjadi mungkin, dapat kita kerjakan atau atasi.
“Ia menumbuhkan sebuah tanduk keselamatan bagi kita di dalam keturunan Daud, hamba-Nya itu, -- seperti yang telah difirmankan-Nya sejak purbakala oleh mulut nabi-nabi-Nya yang kudus -- untuk melepaskan kita dari musuh-musuh kita dan dari tangan semua orang yang membenci kita, untuk menunjukkan rahmat-Nya kepada nenek moyang kita dan mengingat akan perjanjian-Nya yang kudus, yaitu sumpah yang diucapkan-Nya kepada Abraham, bapa leluhur kita, bahwa Ia mengaruniai kita, supaya kita, terlepas dari tangan musuh, dapat beribadah kepada-Nya tanpa takut, dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita” (Luk 1:69-75)
Ign 17 Oktober 2011

Tidak ada komentar: