Kamis, 21 Agustus 2008

Prodiakon atau Asisten Imam atau Asisten Pastoral?

Rm. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr

Prodiakon pelayan khusus Gereja

Semangat pelayanan pastoral dewasa ini menuntut adanya jumlah petugas pastoral yang mencukupi. Mengingat desakan kebutuhan umat beriman akan pelayanan pastoral maka banyak Uskup menjelang Konsili Vatikan II meminta agar kaum awam terlibat di dalam pelayanan liturgi Gereja. Itulah yang menjadi semangat pembaharu Liturgi Gereja. Akhirnya melalui Motu Proprio "Ministeria Quedam" dari Paus Paulus VI 15 Agustus 1972, menegaskan bahwa tahbisan rendah para calon imam dihapus sehingga tinggal dua tugas pelayanan: yakni Sabda dan Altar (Lektor dan Akolit). Saat itu upacara tahbisan diganti dengan upacara pelantikan.

Dalam Liturgi pada dasarnya terdapat dua macam pelayanan yaitu pelayan tertahbis dam tidak tertahbis. Pelayan tertahbis adalah para klerus yang terdiri dari Uskup, Imam dan diakon. Sedangkan yang taktertahbis adalah para awam (non klerus) yang mengemban tugas khusus berdasarkan pelantikan liturgis yakni Lektor dan Akolit sebagai prasyarat tahbisan dan pengangkatan untuk penugasan sementara seperti: putra-putri altar, koster, pemazmur, paduan suara, komentator, pemandu, upacara, petugas kolekte.

Disamping itu, masih terbuka lebar bagi kaum beriman kristiani awam baik pria maupun wanita untuk tugas khusus membantu imam sebagai pelayan tak lazim (minister extraordinarius) dengan penyerahan tugas lewat pemberkatan liturgis atau penugasan sementara (bdk. Ministeria Quedam). Konferensi Waligereja setempat boleh memohon persetujuan Takhta Apostolik untuk menciptakan jabatan lain yang dinilainya perlu dan amat berguna bagi wilayah yang bersangkutan. Para pelayan kaum beriman kristiani awam itu bertugas membantu para klerus namun peran mereka tidak diturunkan melalui tahbisan. Itulah yang membedakan prodiakon dengan diakon tertahbis, atau asisten imam dengan imam.

Menjadi pelayan luar biasa (minister extraordinarius)

Tugas pokok prodiakon atau asisten imam atau asisten pastoral sebenarnya adalah membantu imam dalam bidang liturgi seperti misalnya:

•1. Pelayanan khusus untuk menerimakan komuni kudus. Para waligereja setempat berwenangan mengizinkan orang-orang yang pantas dan dipilih secara pribadi selaku pelayan khusus untuk suatu kesempatan atau jangka waktu tertentu (bdk. Dokumen Immensae Caritatis, 1973). Alasan perlunya petugas pelayan luar biasa, pertama adalah karena dalam perayaan ekatisiti jumlah umat yang besar atau halangan yang menimpa pemimpin perayaan ekaristi. Kedua, adalah di luar perayaan ekaristi: karena jarak tempat yang jauh, terutama untuk viaticum (komuni bekal suci); rumah sakit, panti jompo. Tujuannya: agar umat beriman yang sedang diliputi rahmat dan dengan hasrat yang tulus serta penuh bakti ingin mengambilbagian dalam perjamuan kudus, tidak kehilangan kesempatan untuk menikmati bantuan serta penghiburan sakramental (bdk IC, 776).

•2. Pelayan khusus untuk pemakaman. Keputusan KWI tahun 1972 menyatakan bahwa upacara-upacara di sekitar pemakaman sebaiknya dipimpin oleh seorang imam. Tetapi bila tidak mungkin, semua Upacara boleh juga dipimpin oleh seorang lain, kecuali Liturgi Ekaristi. Memang benar bahwa pada dasarnya upacara pemakaman bukanlah ritus sacerdotal, tak harus dipimpin oleh imam. Hanya tentu para imam yang diserahkan tugas mewartakan kabar gembira sepantasnya membawakan penghiburan bagi yang berduka.

•3. Memimpin Ibadat Sabda dan Ibadat Tobat. Ibadat tobat yang dimaksudkan disini dibedakan dalam tiga bentuk: Ibadat Sabda menjelang Hari Raya, Ibadat Tobat dalam masa Adven dan Prapaskah, Ibadat Sabda Hari Minggu tanpa imam. Dalam pedoman umumnya dikatakan tentang penugasan ini kepada kaum awam pria maupun wanita atas dasar Pembaptisan dan Krisma mereka. Cara hidup mereka hendaknya selaras dengan Injil.

Prodiakon atau Asisten Imam atau Asisten Pastoral?

Prodiakon atau asisten imam atau asisten pastoral merupakan pelayan luar biasa (tak lazim) dalam pelayanan liturgi Gereja, memiliki dasar doktriner dari PUMR, no. 109 (Pedoman Umum Misale Romawi) dan Redemptionis Sacramentum no. 43. Dalam teks tersebut dinyatakan bahwa "Demi manfaat bagi umat setempat maupun seluruh Gereja Allah, maka dalam rangka perayaan Liturgi suci ada di antara kaum awam yang sesuai dengan tradisi, dipercayai pelayanan-pelayanan yang dilaksanakannya dengan tepat dan dengan cara yang patut dipuji. Sangat tepatlah jika ada lebih banyak orang yang membagi di antara mereka serta melaksanakan berbagai tugas atau bagian-bagian pelayanan". Menarik bahwa dari pelbagai sebutan pelayanan awam tersebut memiliki banyak makna seperti prodiakon (pro=untuk, ganti dan diakon= klerus), asisten imam (pembantu imam), asisten pastoral (pembantu petugas pastoral). Asisten imam dipakai sebagai hasil kesepakatan pertemuan Dewan Nasional Komisi Liturgi KWI, Mataloko Flores, 2002. Sedangkan asisten pastoral dipakai untuk karya pelayanan tak lazim (luar biasa) diambil dari Redemptor Sacramentum Bab VII. Dengan demikian sebenarnya istilah asisten imam lebih mendekati dari pada prodiakon.

Karena kebutuhan umat beriman

Dalam instruksi Redemptionis Sacramentum no. 151-152, peran para prodiakon atau asisten imam atau asisten pastoral adalah membantu imam hanya kalau sungguh diperlukan dalam perayaan liturgi. Hanya kalau sungguh perlu, boleh diminta bantuan pelayan-pelayan tak lazim dalam perayaan liturgi. Permohonan akan bantuan yang demikian itu bukannya dimaksudkan demi menunjang partisipasi umat melainkan karena kodratnya bersifat pelengkap dan darurat (bdk. Instruksi Ecclesiasi de Mysterio, 1997). Apalagi jika permohonan akan bantuan pelayan-pelayan tak lazim (luar biasa) itu berdasarkan kebutuhan umat, maka hendaknya dilipatgandakan dengan doa-doa permohonan umat agar mendesak Tuhan segera mengutus seorang imam untuk melayani jemaat serta menumbuhkan kesuburan panggilan untuk tahbisan suci (bdk. RS no. 151; Dewan Kepausan untuk Interpretasi Otentik CIC, jawaban atas dubium, 1 Juni 1988).

Untuk dicermati bahwa tugas membantu imam artinya membantu hanya dalam wilayah liturgi atau peribadatan. Jadi harus dibedakan dari tugas pewartaan (katekese) atau kegiatan sosio-karitatif lainnya. Membantu imam artinya:

1). Meringankan tugas imam dalam hal-hal yang boleh dilimpahkan kepada mereka menurut hukum Gereja,

2). Mengganti imam ketika imam berhalangan hadir, misalnya dalam memimpin upacara pemakaman atau ibadat sabda hari Minggu tanpa imam

Orang-orang yang telah ditunjuk menjadi prodiakon atau asisten imam atau asisten pastoral (sebagai pelayan luar biasa komuni kudus) perlu mendapat instruksi yang memadai dan harus memiliki kepribadian yaang menonjol dalam pengalaman hidup kristen, iman dan susila. Hendaknya mereka berusaha supaya pantas bagi jabatan yang luhur ini dengan memupuk devosi kepada Ekaristi kudus dan memperlihatkan dirinya sebagai teladan bagi umat beriman lainnya, melalui bakti dan hormatnya terhadap sakramen altar yang suci ini. Jangan sampai memilih orang yang bisa menimbulkan sandungan dikalangan umat sendiri (bdk. IC, no. 783)

Perlu mendapat perhatian bagi para imam bahwa jabatan prodiakon, asisten imam atau asisten pastoral hanya pelengkap, bukan pokok. Tugas pokok ada dalam diri imam (bdk kan. 900, §1), sehingga tugas prodiakon atau asisten imam jangan dipergunakan untuk menurunkan (mereduksi) pelayanan asli dari para imam sedemikian rupa sehingga para imam lalai dalam merayakan ekaristi bersama umat yang menjadi tanggungjawab mereka ataupun melalaikam karitas pastoral dalam Gereja di saat umat membutuhkan kehadiran seorang imam seperti dalam saat umat sakit atau pembaptisan anak-anak, atau perayaan perkawinan, atau pemakaman orang meninggal. Semuanya itu tugas inti para imam dan didampingi para diakon. Karena itu, tidak boleh terjadi bahwa di Paroki-Paroki para imam menukar pelayanan pastoral dengan para prodiakon atau asisten imam, karena dengan itu mengaburkan tugas khas masing-masing (bdk. RS, 152).

Selasa, 05 Agustus 2008

Komentar Uskup Agung Palembang Mgr Aloysius Sudarso SCJ

Dalam tulisan ini, Romo Elis mengajak kita untuk melihat hidup dari arus dasar yang lebih dalam. Hidup adalah pemberian terbesar. Hidup boleh kita miliki bukan karena jasa kita sendiri.

Hidup itu seperti samudera luas, seperti sungai yang mengalir – yang kalau diturut muaranya tetap ke laut yang tak berbatas. Filosofi air yang dianut oleh Elis untuk memaknai hidup dan menjelaskannya perlu diperdalam lagi. Hidup memang sarat dengan riak-riak. Akan tetapi, agar seperti laut atau sungai dengan kedalamannya, hidup harus mengalir berdasarkan kekuatan arus paling dasar – yang tegas, deras, dan tak terbelokkan. Kalau tidak demikian, hidup akan menjadi dangkal, hanya pada permukaan, periferi, dan hanya menjadi riak-riak yang bisa naik turun tak menentu.

Sebagai pemberian cuma-cuma atau gratis, hidup itu harus dimaknai. Hidup adalah bahan dasar untuk segala sesuatu, maka tak bisa diremehkan dan direndahkan. Kalau hidup dihapuskan? Semua sirna, dan tak ada nikmat apapun.

Romo Elis melukiskan pemaknaan hidup itu melalui cerita waktu di sekolah dasar. Ketika itu seorang ibu guru meletakkan bunga dan menyuruh para murid melukiskannya dari berbagai sudut pandang. Betul bahwa hidup harus punya fokus. Banyak orang menjadi buyar hidupnya karena tak meruncing. Namun saya ingin menambahkan, bahwa manusia harus menjadi semakin khusus kalau dia ingin berarti dan memberi makna bagi orang lain. Dengan saling menerima dan menghargai kekhususannya, orang akan terbuka dan melihat yang indah dalam diri sendiri serta dalam diri orang lain. Bayangkan, setiap orang itu “khusus” di mata Tuhan! Kekhususan itu mencerminkan kekayaan hidup, bahkan kekayaan Tuhan.

Dua kali Elis berbicara tentang kematian. Takut mati dan takut neraka. Juga, mati disinggung dalam tulisan “Rindu difoto mati”. Lewat pesan ringkas melalui ponselnya, Elis mengharapkan komentar tentang takut neraka dan pandangan tentang mati itu. Menurut saya, biar saja! Kan itu berawal dari pengalaman kecil eksistensial. Kematian hanya dapat dijawab oleh yang pernah mati dan hidup kembali. Bahwa mati itu bagian dari hidup rasanya itu yang akan dapat membantu orang seimbang dalam perjalanannya. Bahwa kematian menyadarkan untuk selalu berjaga-jaga, asal bukan karena didominasi rasa takut, ya itu wajar.

Berjaga-jaga paling baik adalah berjaga seperti ayam atau burung pungguk. Di pedesaan, seperti sekitar Gumawang tempat Romo Elis bekerja sebagai imam, barangkali masih ada ayam berkokok pada pukul dua belas malam, dan semakin pagi semakin gencar kokok mereka. Mengapa? Seakan dalam benak si ayam telah hadir sang surya yang semakin terasa kehangatan sinarnya. Rasa satu dan kerinduan seperti ini membawa kokok sukacita. Juga si pungguk merindukan bulan –maka dia bernyanyi dan berjaga.

Berjaga-jaga bukan karena takut tetapi karena rasa satu dengan yang dinantikannya. Hidup juga harus begitu: Tidur tetapi berjaga! Ada yang dinantikan dalam hidup ini, bukan?

Seberapa jauh ibu berperan dalam hidup? Elis mengingat masa kecil, mulai dengan mengecewakan ibu lewat ”Iwak asin” yang terus-menerus hingga pada “Sakitnya melahirkan” serta “Nikmatnya melahirkan”.

Ibu memang dekat dengan hidup. Melihat ibu yang menggendong sambil menyusui bayinya, saya mau mengatakan bahwa ibu adalah makanan dan minuman. Habis, tanpa makan dan minum dari tubuh darah ibu, tidak mungkin kita hidup sampai sekarang ini. Ibu dan hidup begitu dekat. Hidup itu begitu kuat. Itu nampak dalam para ibu yang rela mati untuk melahirkan hidup baru. Ada banyak cara ibu memelihara hidup anak: dengan memaafkan, menyimpan yang tidak enak dalam hati, dan diam tetapi berdoa di keheningan dapur rumah tangga.

Bukankah suatu hukum natural: harus ada yang mati terlebih dahulu supaya hidup bisa diteruskan? Ini jaman orang takut mati. Banyak puteri takut melahirkan, maka memilih melahirkan dengan operasi cesar. Malah ada yang takut mempunyai anak karena merepotkan. Itu tanda manusia takut mati.

Hidup itu tumbuh melalui sakit, kekecewaan, dan korban. Elis menceritakan pengalaman tidak enak itu. Entah itu pengalaman lama atau akhir-akhir ini, hanya dia yang tahu. Hidup harus bersahabat dengan diri sendiri dan dengan luka-luka –dan watak kita. Ingatkah kita pada kata-kata Michael Angelo, sang maestro seni dan pencipta patung-patung terkenal di dunia itu? Dia mengatakan bahwa dalam batu marmer yang dipahatnya dia melihat Musa, Maria yang memangku Anaknya yang wafat di salib. Harus ada intervensi dari yang lain agar manusia bisa dibentuk.

Namun, yang besar dan mulia dari hidup ini hanya akan tumbuh dalam kesederhanaan dan keheningan. Di keheningan pagi kuncup-kuncup mawar mengembangkan daun-daun bunganya yang indah. Banyak hal-hal besar terjadi tetapi hanya bisa dilihat dengan hati sederhana.

Wah, bicara tentang misteri hidup tak ada habisnya. Karena hidup memang begitu kuat. Manusia ini hanya setitik air di tengah mahadahsyatnya samudera. Dan hanya Yesus yang bisa mengatakan, “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup.” Via,Veritas et Vita!

Selamat membaca, moga-moga Anda terbantu dalam memaknai hidup Anda! Proficiat kepada Romo Elis!



Mgr. Aloysius Sudarso SCJ

Uskup Agung Palembang

Dari Buku Filosofi Air

Senin, 04 Agustus 2008

KRISNAM Edisi II

Bapak ibu yang terkasih, apa kabar ? Untuk edisi kedua ini kami akan menyampaikan renungan tentang keluarga hal ini sesuai dengan tema dari Paroki MKK tentang “ Menjadi keluarga yang terberkati “. Disamping itu kami juga akan menyampaikan kegiatan lingkungan selama 6 bulan terakhir berikut perolehan kas lingkungan dan pemanfaatanya.
Kami menyadari bahwa kehadiran informasi ini sangat jauh dari sempurna karenanya kami selalu mengharapkan masukan dan saran dari bapak ibu.

Partisipasi warga dalam kegiatan
Hal yang patut disyukuri bahwa partisipasi warga Krisantus 6 dalam setiap kegiatan lingkungan cukup tinggi hal ini bisa dibuktikan dengan melihat daftar hadir dalam setiap kegiatan lingkungan.
Secara rata – rata warga yang hadir dalam kegiatan lingkungan mencapai 23 orang (dewasa dan anak-anak). Kehadiran mereka dalam kegiatan lingkungan dengan berperan cukup aktif dalam membagikan pengalamannya pada kesempatan membagikan sharing maupun doa umat. Demikian pula untuk kegiatan socialnya (mis : dukacita, menengok orang yang sakit, dll) warga Krisantus 6 cukup peduli terhadap sesama warganya.
Partisipasi tersebut merupakan hal yang patut disyukuri karena menunjukkan bahwa warga Krisantus 6 betul-betul menjadi gambaran Allah dengan karya nyata terhadap sesama. Semuanya ini bukan untuk pengurus lingkungan bukan pula untuk pribadi masing-masing warga, melainkan demi kemuliaan Tuhan, bahwa Tuhan betul-betul hadir di lingkungan Krisantus 6 dan dirasakan rahmat dan berkatnya lewat karya nyata warganya.

Agustinus S

Info Lingkungan

Info Lingkungan
• Uang Kas lingkungan sampai dengan saat ini sebesar Rp. …………,-
Uang tersebut untuk meningkatkan kepedulian terhadap warga dan partisipasi kegiatan tingkat wilayah
• Sesuai dengan keputusan rapat pengurus tgl 12 April 2008, diputuskan bahwa tiap-tiap keluarga tidak dipungut iuran wajib per bulan melainkan dipersilahkan secara sukarela untuk mengisi kas lingkungan sesuai dengan kepedulian masing-masing.
• Diluar program liturgis (seperti: prapaskah, bulan Maria, bulan kitab suci, masa adven), pada setiap bulannya diadakan pertemuan rutin di rumah bapak Adi Yuniwiarso, undangan menyusul.
Mohon partisipasi umat
• Telah menghadap Allah Bapa di Surga :
1. Bapak Yosef Hadi Sitikno
2. Bapak Martinus Sitanggang
3. Saudara Petrus Yudi(Anak Bu Hadi)
Mohon doanya agar arwahnya diterima disisi Tuhan dan keluarga
yang ditinggalkan diberi kekuatan iman
• Bagi bapak ibu yang mempunyai rencana untuk : membaptis anaknya, pelayanan doa, dan masalah lainnya yang terkait dengan kegiatan menggereja, bisa menghubungi ketua lingkungan atau pengurus lingkungan yang terdekat

MOMEN atau SAAT

MOMEN atau SAAT

Momen (saat) yang paling menyenangkan, Pujilah Tuhan
Momen (saat) yang paling sulit, Carilah Tuhan
Momen (saat) yang paling damai / teduh , Sembahlah Tuhan
Momen (saat) yang paling menyakitkan, Percayai Tuhan
Setiap (saat) momen, bersyukur pada Tuhan.

Dikutip dari : Rick Warren dan Paul Bradshaw

Renungan keluarga.

Renungan keluarga.
Dahulu ketika kita belum punya pasangan hidup kita berdoa pada Tuhan agar memiliki pasangan hidup sesuai dengan rencana Tuhan. Sesudah mendapatkan pasangan hidup dan diberkati di gereja, dengan mantap kita berjanji kepada Tuhan, dihadapan pastor dan para saksi, untuk saling setia dalam : untung dan malang, sehat dan sakit, suka dan duka, akan membimbing dan mencitai anak yang Tuhan percayakan pada kita dan seterusnya
Pada saat sekarang, kalau ada yang tanya apa yang paling menjengkelkan atau paling tidak suka terhadap pasangan hidup kita ? Kita akan mempunyai jawaban yang cukup banyak. Tapi kalau ditanya ‘apa sisi positif dari pasangan hidup kita?’ mungkin jawabannya hanya beberapa poin saja. Karena umumnya kita cenderung mengenang sisi negatifnya daripada sisi positifnya. Hal yang lainnya, kita dapat merasakan dan mensyukuri rahmat Tuhan lewat pasangan hidup akan tetapi cukup susah mengungkapkannya dengan kata-kata.
Kehadiran anak menambah kebahagiaan keluarga, tetapi pertumbuhan demi pertumbuhan kehadiran anak memberikan warna tersendiri bagi keluarga, atau bisa dikatakan menjadi salah satu biang keributan.
Sekedar mengingatkan, ketika murid Yesus bertanya ‘ Siapa yang terbesar di hadapan Allah? Jawab Yesus ‘Siapa yang menyambut anak kecil ini adalah yang terbesar di hadapan Allah ? Mengapa ? Karena anak kecil cenderung polos, apa adanya, tanpa prasangka sedikitpun terhadap sesama dan mempercayakan sepenuhnya pada orang tuanya. Dalam hal iman tentu kita mempercayakan hidup kita sepenuhnya pada Tuhan Yesus.
Hal yang perlu direnungkan adalah sudahkah kita menyambut dan memperlakukan anak seperti halnya Yesus ? Sudahkah pula kita bersikap terhadap pasangan hidup sesuai dengan janji yang kita ucapkan sewaktu pemberkatan pernikahan dulu ?