Selasa, 30 April 2013

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya"

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya"
(Kis 15:1-6; Yoh 15:1-8)
"Akulah pokok anggur yang benar dan Bapa-Kulah pengusahanya. Setiap
ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting
yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. Kamu
memang sudah bersih karena firman yang telah Kukatakan kepadamu.
Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting
tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada
pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak
tinggal di dalam Aku.Akulah pokok anggur dan kamulah
ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam
dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat
apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar
seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan
dicampakkan ke dalam api lalu dibakar. Jikalau kamu tinggal di dalam
Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu
kehendaki, dan kamu akan menerimanya. Dalam hal inilah Bapa-Ku
dipermuliakan, yaitu jika kamu berbuah banyak dan dengan demikian kamu
adalah murid-murid-Ku."(Yoh 15;1-8), demikian kutipan Warta Gembira
hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan
sederhana sebagai berikut:
• Pengajaran Yesus senantiasa sederhana dan terkait dengan pengalaman
hidup sehari-hari para pendengarNya, sehingga apa yang diajarkan
senantiasa dapat diterima dan difahami. Dalam Warta Gembira hari ini
Yesus mengingatkan kita semua akan pentingnya senantiasa bersatu dan
bersama dengan Allah, dengan perumpamaan `pokok anggur dan
ranting-rantingnya'. Ranting menerima makanan dari pokok batang serta
kemudian meneruskannya ke daun-daun, sehingga pohon kelihatan segar
dengan daun-daun rimbun dan tentu saja menjanjikan buah-buah yang
berguna bagi manusia. Maka marilah kita sebagai umat beriman setia
pada iman kita artinya dalam situasi atau kondisi apapun kita
senantiasa tetap membaktikan diri sepenuhnya kepada Allah, setia
melaksanakan kehendak dan perintah Allah. Kesatuan kita dengan Allah
memang juga harus menjadi nyata atau terwujud dalam kesatuan dengan
saudara-saudari kita. Dengan kata lain marilah kita bekerja sama atau
saling membantu dalam melaksanakan kehendak atau perintah Allah,
sehingga hidup dan kerja kita akan menghasilkan buah melimpah:
keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang berguna bagi
keselamatan jiwa umat manusia. Kesatuan kita antara lain diikat dengan
atau oleh spiritualitas atau visi beserta tata-tertib atau aturan
untuk memperlancar penghayatan spiritualitas atau visi, maka kami
berharap kita semua setia dan taat pada tata tertib atau aturan yang
terkait dengan hidup, panggilan dan tugas pengutusan kita
masing-masing. Semoga cara hidup dan cara bertindak kita sebagai orang
beriman sungguh menghasilkan keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai
kehidupan.
• "Setibanya di Yerusalem mereka disambut oleh jemaat dan oleh
rasul-rasul dan penatua-penatua, lalu mereka menceriterakan segala
sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka. Tetapi beberapa
orang dari golongan Farisi, yang telah menjadi percaya, datang dan
berkata: "Orang-orang bukan Yahudi harus disunat dan diwajibkan untuk
menuruti hukum Musa." Maka bersidanglah rasul-rasul dan
penatua-penatua untuk membicarakan soal itu." (Kis 15:4-6).
Perkembangan dan pertumbuhan jumlah umat yang percaya kepada Yesus
Kristus semakin meningkat serta menimbulkan masalah atau persoalan.
Cukup menarik apa yang dilakukan oleh para rasul, yaitu 'bersidang
atau bertemu bersama-sama untuk memecahkan persoalan yang muncul.
Dalam kehidupan sehari-hari kiranya kita juga menghadapi aneka masalah
atau persoalan, maka baiklah hendaknya jangan ditangani atau
diselesaikan sendiri masalah atau persoalan yang ada, melainkan
hendaknya dibicarakan bersama dengan rekan-rekan seiman atau sekerja
atau sekomunitas. Kami percaya dalam kehidupan bersama kita senantiasa
telah diselenggarakan pertemuan-pertemuan secara rutine. Semoga
pertemuan tersebut tidak sekedar basa-basi saja, melainkan sungguh
membicarakan dan menanggapi aneka masalah dan persoalan dalam hidup
atau kerja bersama. Kebiasaan pertemuan ini kami harapkan terjadi
dalam komunitas basis, seperti dalam keluarga atau komunitas
biara/pastoran. Pertemuan ini secara formal atau informal dapat
diselenggarakan. Secara formal berarti mengusahakan waktu khusus untuk
bercakap-cakap bersama, sedangkan secara informal antara lain
memanfaatkan perjumpaan yang telah ada, misalnya dalam makan bersama
atau rekreasi bersama. Marilah kita ingat dan cermati bahwa di tingkat
tinggi, dalam pemerintahan atau organisasi internasional, apa yang
disebut `lobby' alias percakapan dari hati ke hati sungguh menentukan
kebijakan bersama. Perjumpaan atau percakapan dari hati ke hati memang
sungguh mengahasilkan buah yang baik dan berguna.
"Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: "Mari kita pergi ke
rumah TUHAN."Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai
Yerusalem.Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang
bersambung rapat" (Mzm 122:1-3)
Ign 1 Mei 2013. Note: bulan Mei adalah bulan Maria, marilah kita
tingkatkan devosi kepada SP Maria

Kamis, 25 April 2013

"Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya"

"Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya"

(1Ptr 5:5b-14; Mrk 16:15-20)

"Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk. Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum. Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka, mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh." Sesudah Tuhan Yesus berbicara demikian kepada mereka, terangkatlah Ia ke sorga, lalu duduk di sebelah kanan Allah. Mereka pun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:15-20), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan dalam rangka mengenangkan pesta St.Markus, Pengarang Injil, hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Injil adalah warta gembira atau kabar baik, maka memberitakan Injil berarti senantiasa memberitakan apa yang baik dan menggembirakan. Kami berharap kepada segenap umat beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus untuk senantiasa memberitakan apa yang baik dan menggembirakan dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari kapan pun dan dimana pun. Memang sekali lagi diri kita pertama-tama harus senantiasa baik dan gembira adanya, karena Allah senantiasa menyertai dan hidup serta bekerja dalam diri kita yang lemah dan rapuh ini. Karena Allah hidup dan bekerja dalam diri kita maka dalam situasi dan kondisi apapun kita senantiasa ceria, gembira, dinamis, bergairah, tak pernah menggerutu atau mengeluh sedikitpun. Dengan cara hidup dan cara bertindak demikian kita sudah dapat menjadi pemberita apa yang baik dan menggembirakan. Apa yang kita lakukan dan katakan akan diwartakan atau diberitakan orang lain kepada teman-temannya. Tantangan, masalah dan hambatan untuk memberitakan apa yang baik dan menggembirakan rasanya pada masa kini sungguh banyak dan berat, mengingat dan memperhatikan gaya hidup kebanyakan orang masa kini begitu egois dan kurang social alias kurang memperhatikan kepentingan orang lain, dan dengan demikian acuh dan tak acuh terhadap apa yang baik dan menggembirakan yang kita wartakan. Orang kurang mendengarkan apa yang terjadi di lingkungan hidupnya, dan cara hidup serta cara bertindaknya lebih dipengaruhi oleh apa yang dapat dilihat dengan mata atau indera fisik ini. Orang lebih melihat dan mengedepankan apa yang ada di luar atau yang nampak, dan kurang mampu melihat dan memperhatikan apa yang ada dalam hati dan pikiran orang lain. Sikap mental materialistis memang berlawanan dengan semangat Injil.

· "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya. Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.Lawanlah dia dengan iman yang teguh, sebab kamu tahu, bahwa semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama" (1Ptr 5:5b-9). Iblis atau setan memang berkeliling, berkeliaran kemana-mana untuk merayu orang melakukan kejahatan. Gejala suara atau rayuan setan dapat sangat lembut dan sangat kasar atau keras. Rayuan lembut itu misalnya dalam aneka tawaran bentuk kenikmatan duniawi (makan, minum, seks dst..), yang mendatangi kita melalui teman-teman atau saudara-saudari kita yang setiap hari bertemu atau bekerja bersama kita. Rayuan kasar dan keras misalnya berupa gertakan atau teriakan keras yang memekakkan telinga dan menakutkan. Orang yang lemah atau rapuh imannya pada umumnya akan menjadi korban empuk rayuan setan. Kita diingatkan untuk menghadapi rayuan setan dengan iman yang teguh, yang berarti senantiasa mengandalkan diri pada Penyelenggaraan Ilahi, rahmat Allah. Bersama dan bersatu dengan Allah kita akan mampu mengalahkan rayuan setan yang lembut maupun kasar. Salah satu bentuk penghayatan iman dalam menghadapi rayuan setan antara lain berdoa, maka ketika menghadapi rayuan setan berdoalah dengan menatap atau mengenangkan Yesus yang tergantung di kayu salib, atau dengan membuat tanda salib seraya berkata "Demi nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus". Percayalah dengan penuh khidmat membuat tanda salib anda akan menerima rahmat atau kekuatan luar biasa dari Allah, maka anda akan mampu mengalahkan rayuan-rayuan setan.

"Aku hendak menyanyikan kasih setia TUHAN selama-lamanya, hendak memperkenalkan kesetiaan-Mu dengan mulutku turun-temurun. Sebab kasih setia-Mu dibangun untuk selama-lamanya; kesetiaan-Mu tegak seperti langit" (Mzm 89:2-3)

Ign 25 April 2013

Selasa, 23 April 2013

"Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya."

"Aku datang bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkannya."

(Kis 12:24-13:5a; Yoh 12:44-50)

"Tetapi Yesus berseru kata-Nya: "Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia bukan percaya kepada-Ku, tetapi kepada Dia, yang telah mengutus Aku; dan barangsiapa melihat Aku, ia melihat Dia, yang telah mengutus Aku. Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan. Dan jikalau seorang mendengar perkataan-Ku, tetapi tidak melakukannya, Aku tidak menjadi hakimnya, sebab Aku datang bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya. Barangsiapa menolak Aku, dan tidak menerima perkataan-Ku, ia sudah ada hakimnya, yaitu firman yang telah Kukatakan, itulah yang akan menjadi hakimnya pada akhir zaman. Sebab Aku berkata-kata bukan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa, yang mengutus Aku, Dialah yang memerintahkan Aku untuk mengatakan apa yang harus Aku katakan dan Aku sampaikan. Dan Aku tahu, bahwa perintah-Nya itu adalah hidup yang kekal. Jadi apa yang Aku katakan, Aku menyampaikannya sebagaimana yang difirmankan oleh Bapa kepada-Ku." (Yoh 12:44-50), demikian kutipan Warta Gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Yesus adalah Penyelamat Dunia, maka Ia datang ke dunia untuk menyelamatkan dunia seisinya, seluruh ciptaan yang ada di permukaan bumi atau di alam raya ini. Maka kita semua yang beriman kepadaNya memiliki panggilan yang sama, yaitu untuk hidup mendunia atau membumi guna menyelamatkan apa yang ada di permukaan bumi ini yang tidak selamat. Memang untuk itu pertama-tama dan terutama diri kita sendiri harus dalam keadaan selamat, agar dapat menyelamatkan yang lain. Maka marilah jika ada sesuatu yang tidak selamat di lingkungan hidup kita segera kita selamatkan: tempat yang kotor kita bersihkan, yang tidak teratur segera kita atur, yang tidak disipilin kita disiplinkan, dst.. Namun kiranya yang perlu kita utamakan adalah manusia, misalnya yang bodoh kita ajar dengan tekun dan rendah hati agar pandai atau cerdas, yang malas kita ingatkan untuk rajin, yang korup kita tegor dan ingatkan untuk jujur dst.. Yang mendesak pada masa kini hemat saya adalah para koruptor, dan untuk itu perlu ditertibkan para peserta didik agar tidak menyontek baik dalam ulangan atau ujian, karena menyontek hemat saya merupakan pelatihan untuk korupsi. Membiarkan tindakan para peserta didik untuk menyontek berarti mendidik calon koruptor. Tindakan korupsi merupakan tindakan pembusukan hidup bersama, sehingga hidup bersama tidak enak dan tidak nikmat lagi. Marilah kita berantas tindakan korupsi di bidang kehidupan atau pelayanan apapun. Kami sungguh prihatin bahwa dua departemen, yaitu departemen agama dan pendidikan, yang harus mendidik warganegara agar hidup baik, justru di dalamnya sarat dengan tindakan-tindakan korupsi.

· "Oleh karena disuruh Roh Kudus, Barnabas dan Saulus berangkat ke Seleukia, dan dari situ mereka berlayar ke Siprus. Setiba di Salamis mereka memberitakan firman Allah di dalam rumah-rumah ibadat orang Yahudi." (Kis 13:4-5a). Apa yang dilakukan oleh Barnabas dan Saulus kiranya dapat menjadi teladan atau inspirasi bagi kita semua, yaitu hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan Roh Kudus guna mewartakan atau memberitakan firman Allah. Kami berharap kita tidak hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, melainkan senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan dorongan/suruhan Roh Kudus, yang berarti senantiasa hidup baik dan berbudi pekerti luhur sesuai dengan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dalam Tahun Iman ini kami harapkan kita semua giat memperbaharui dan memperdalam iman kita dengan bantuan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Hendaknya pembacaan dan permenungan firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci digiatkan dan didukung di lingkungan-lingkungan umat maupun dalam keluarga-keluarga. Tentu saja para pengkotbah di rumah-rumah atau tempat-tempat ibadat kami harapkan menyampaikan kotbah bersumber dari Kitab Suci, maka hendaknya apa yang tertulis didalam Kitab Suci direfleksikan secara mendalam, agar isi kotbah mengena dan sesuai dengan kebutuhan umat Allah. Dengan kata lain kebiasaan refleksi atas Kitab Suci kami harapkan menjadi kebiasaan para pengkotbah maupun pewarta Kabar Baik atau para katekis di lingkungan Gereja Katolik atau guru agama di masing-masing agamanya. Tanpa refleksi mendalam apa yang tertulis di dalam Kitab Suci akan kurang mengena bagi umat Allah.

"Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. " (Mzm 67:2-3.5)

Senin, 15 April 2013

"Akulah roti hidup"

"Akulah roti hidup"

(Kis 7:51-8:1a; Yoh 6:30-35)

"Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:30-35), demikian kutipan warta gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan senantiasa akan berbahagia dan damai sejahtera, tidak akan pernah sedih, frustrasi atau lesu, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi", demikian sabda Yesus. Maksud dari sabda ini antara lain adalah bahwa siapapun yang dengan rendah hati berani mempercayakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi atau Tuhan, ia akan terus-menerus nikmat, bahagia dan damai sejahtera dalam hidup di dunia ini. Kita semua kiranya mendambakan keadaan yang demikian itu, maka marilah dalam situasi dan kondisi macam apapun kita senantiasa mempercayakan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi. "Roti" adalah makanan utama dan sehari-hari orang-orang Yahudi/zaman Yesus, maka sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita setiap hari diharapkan menikmati sabda-sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dengan rendah hati kami relakan jika apa yang saya kutipkan dan refleksikan secara sederhana dari Kitab Suci, sesuai dengan Kalendarium Liturgi, dibacakan dan dicecap dalam-dalam entah secara pribadi atau bersama-sama di dalam keluarga/komunitas. Kami harapkan akhirnya kita yang beriman kepada Yesus Kristus memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus, menjadi sahabat-sahabat Yesus atau `alter Christi'.

· "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka" (Kis 7:60), demikian kata-kata terakhir atau doa Stefanus, martir pertama dalam Gereja sebelum meninggal dunia. Apa yang dikatakan oleh orang yang akan meninggal dunia, sebagai kata-kata akhir, pada umumnya mengesan dan dihayati oleh mereka yang mendengarnya atau mengasihi orang yang akan meninggal dunia tersebut. Kami percaya bahwa kita mengimani dan mengasihi Stefanus, maka marilah kita hayati doa Stefanus tersebut dalam hidup dan kerja kita sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Kasih pengampunan itulah yang dimohonkan oleh Stefanus bagi mereka yang membunuhnya. Hemat saya doa ini meneladan Yesus yang akan wafat di kayu salib, dimana Ia juga mendoakan dan mohonkan kasih pengampunan bagi mereka yang telah menganiaya dan menyalibkanNya. Kiranya dalam hidup sehari-hari kita juga sering merasa disakiti atau dilecehkan oleh orang lain, padahal yang bersangkutan belum tentu bermaksud menyakiti atau melecehkan kita, bahkan mereka merasa berjasa dan menjadi pahlawan. Dengan kata lain mereka belum tentu bersalah, melainkan tidak tahu. Maka hendaknya kita jangan terlalu mudah membalas dendam atau memarahi mereka yang menyakiti dan melecehkan kita. Marilah kita sikapi perlakuan mereka sebagai perhatian alias kasih mereka kepada kita, maka hendaknya ditanggapi dengan kata singkat `terima kasih'. Jika mereka tidak mengasihi kita, maka kita akan didiamkan saja, tetapi karena mereka mengasihi kita maka memberi komentar atau perlakuan tertentu yang menurut kata hatinya merupakan perbuatan baik. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua: hendaknya kita hidup dan bertindak saling mengasihi dan mengampuni dimana pun dan kapan pun. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, maka selayaknya kita hidup saling mengampuni dan mengasihi.

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku." (Mzm 31:3c-4)

Ign 16 April 2013