Senin, 20 Oktober 2008

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala”

“Hendaklah pinggangmu tetap berikat dan pelitamu tetap menyala”

(Ef 2:12-22; Luk 12:35-38)



"Hendaklah pinggangmu tetap berikat
dan pelitamu tetap menyala. Dan hendaklah kamu sama seperti orang-orang yang
menanti-nantikan tuannya yang pulang dari perkawinan, supaya jika ia datang dan
mengetok pintu, segera dibuka pintu baginya. Berbahagialah hamba-hamba yang
didapati tuannya berjaga-jaga ketika ia datang. Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya ia akan mengikat pinggangnya dan mempersilakan mereka duduk makan,
dan ia akan datang melayani mereka. Dan apabila ia datang pada tengah malam
atau pada dinihari dan mendapati mereka berlaku demikian, maka berbahagialah
mereka” (Luk 12:35-38), demikian kutipan Warta Gembira hari ini.



Berrefleksi
atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai
berikut:

· Salah satu atau mungkin yang utama dari fungsi ikat
pinggang adalah untuk membantu penampilan diri semakin menarik, semakin nampak
tampan, menawan, cantik dan seksi serta menarik. Maka sabda Yesus “Hendaklah pinggangmu tetap berikat” berarti
suatu ajakan atau perintah agar kita senantiasa menampilkan diri menawan dan
menarik atau memiliki daya pikat bagi orang lain dimanapun dan kapanpun.
Kiranya yang diharapkan disini tidak hanya secara phisik, melainkan terutama
secara spiritual atau rohani. “Hendaklah
pelitamu tetap menyala”, artinya hendaklah hati, jiwa, akal budi dan
tubuhmu tetap sehat wal’afiat, ceria dan bergembira ria, sehingga terbuka
terhadap aneka kemungkinan dan kesempatan serta setiap saat siap sedia untuk
diutus atau dipanggil oleh Tuhan alias meninggal dunia. Menampilkan diri
menawan, menarik dan memiliki daya pikat berarti berbudi pekerti luhur dan
secara konkret menghayati keutamaan-keutamaan ini :” bekerja
keras, berani memikul resiko, berdisiplin, beriman, berhati lembut,
berinisiatif, berpikir matang, berpikiran jauh ke depan, bersahaja,
bersemangat, bersikap konstruktif, bersyukur, bertanggung jawab, bertenggang
rasa, bijaksana, cerdik, cermat, dinamis, efisien, gigih, hemat, jujur,
berkemauan keras, kreatif, kukuh hati, lugas, mandiri, mawas diri, menghargai
karya orang lain, menghargai kesehatan, menghargai waktu, pemaaf, pemurah,
pengabdian, pengendalian diri, produktif, rajin, ramah tamah, rasa kasih
sayang, rasa percaya diri, rela berkorban, rendah hati, sabar, setia, sikap
adil, sikap hormat, sikap tertib, sopan santun, sportif, susila, tangguh,
tegas, tekun, tetap janji, terbuka dan ulet “(Prof.Dr.Sedyawati: Pedoman Penananam Budi Pekerti Luhur, Balai
Pustaka, Jakarta 1997). Maka marilah kita menjadi unggul dalam penghayatan
salah satu atau beberapa dari keutamaan-keutamaan tersebut di atas.

· “Demikianlah
kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari
orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah, yang dibangun di atas
dasar para rasul dan para nabi, dengan Kristus Yesus sebagai batu penjuru. Di
dalam Dia tumbuh seluruh bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah yang
kudus, di dalam Tuhan. Di dalam Dia kamu juga turut dibangunkan menjadi tempat
kediaman Allah, di dalam Roh” (Ef 2:19-22),
demikian peringatan Paulus kepada umat di Efesus, kepada kita semua orang
beriman. Kita semua adalah ‘anggota-anggota
keluarga Allah, yang tumbuh sebagai bangunan, rapi tersusun, menjadi bait Allah
yang kudus’, sehingga kebersamaan hidup kita menawan, menarik serta
memiliki daya pikat bagi siapapun untuk siap sedia tumbuh berkembang menjadi
‘bait Allah’, orang yang dikuasai atau dirajai oleh Allah. Agar kebersamaan
hidup kita menawan, menarik dan memiliki daya pikat kiranya masing-masing dari
kita, setiap orang harus menawan, menarik dan memiliki daya pikat. Salah satu
tanda bahwa kita dirajai atau dikuasai oleh Allah antara lain melalui diri
kita, gaya hidup dan cara bertindak kita orang dapat mengintip siapa itu Tuhan,
siapa itu sesama manusia dan apa itu harta benda: Tuhan adalah raja dan ‘tuan’
bagi manusia, sesama manusia adalah saudara atau sahabat dalam perjalanan hidup
menuju hidup abadi di sorga, dan harta benda adalah sarana untuk menolong
manusia di dalam perjalanan hidup tersebut. Kita semua adalah saudara atau
sahabat, dalam keadaan atau situasi apapun, dimanapun dan kapanpun. Jika dalam
kebersamaan hidup kita, entah dalam keluarga, masyarakat, dalam hidup berbangsa
dan bernegara masih ada orang yang miskin dan berkekurangan berarti ada di
antara kita yang tidak dirajai atau dikuasai oleh Allah, melainkan dirajai atau
dikuasai oleh ‘setan’, harta benda, jabatan, kedudukan atau kehormatan duniawi.
Maka kami mengajak dan mengingatkan mereka yang gila atas atau dikuasai oleh
harta benda, jabatan, kedudukan dan kehormatan duniawi untuk bertobat dan
memperbaharui diri agar kebesamaan hidup kita menarik, menawan dan memiliki
daya pikat.



“Kasih dan kesetiaan akan bertemu,
keadilan dan damai sejahtera akan bercium-ciuman. Kesetiaan akan tumbuh dari
bumi, dan keadilan akan menjenguk dari langit. Bahkan TUHAN akan memberikan
kebaikan, dan negeri kita akan memberi hasilnya. Keadilan akan berjalan di
hadapan-Nya, dan akan membuat jejak kaki-Nya menjadi jalan.”(Mzm 85:11-14)

Jakarta, 21 Oktober 2008

Tidak ada komentar: