Senin, 15 April 2013

"Akulah roti hidup"

"Akulah roti hidup"

(Kis 7:51-8:1a; Yoh 6:30-35)

"Maka kata mereka kepada-Nya: "Tanda apakah yang Engkau perbuat, supaya dapat kami melihatnya dan percaya kepada-Mu? Pekerjaan apakah yang Engkau lakukan? Nenek moyang kami telah makan manna di padang gurun, seperti ada tertulis: Mereka diberi-Nya makan roti dari sorga." Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya bukan Musa yang memberikan kamu roti dari sorga, melainkan Bapa-Ku yang memberikan kamu roti yang benar dari sorga. Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia." Maka kata mereka kepada-Nya: "Tuhan, berikanlah kami roti itu senantiasa." Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi" (Yoh 6:30-35), demikian kutipan warta gembira hari ini

Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:

· Hidup bersama dan bersatu dengan Tuhan senantiasa akan berbahagia dan damai sejahtera, tidak akan pernah sedih, frustrasi atau lesu, meskipun harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepadaKu, ia tidak akan haus lagi", demikian sabda Yesus. Maksud dari sabda ini antara lain adalah bahwa siapapun yang dengan rendah hati berani mempercayakan diri pada Penyelenggaraan Ilahi atau Tuhan, ia akan terus-menerus nikmat, bahagia dan damai sejahtera dalam hidup di dunia ini. Kita semua kiranya mendambakan keadaan yang demikian itu, maka marilah dalam situasi dan kondisi macam apapun kita senantiasa mempercayakan diri kepada Penyelenggaraan Ilahi. "Roti" adalah makanan utama dan sehari-hari orang-orang Yahudi/zaman Yesus, maka sebagai orang yang beriman kepada Yesus kita setiap hari diharapkan menikmati sabda-sabdaNya sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci. Maka dengan rendah hati kami relakan jika apa yang saya kutipkan dan refleksikan secara sederhana dari Kitab Suci, sesuai dengan Kalendarium Liturgi, dibacakan dan dicecap dalam-dalam entah secara pribadi atau bersama-sama di dalam keluarga/komunitas. Kami harapkan akhirnya kita yang beriman kepada Yesus Kristus memiliki cara melihat, cara merasa, cara berpikir, cara bersikap dan cara bertindak Yesus, menjadi sahabat-sahabat Yesus atau `alter Christi'.

· "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka" (Kis 7:60), demikian kata-kata terakhir atau doa Stefanus, martir pertama dalam Gereja sebelum meninggal dunia. Apa yang dikatakan oleh orang yang akan meninggal dunia, sebagai kata-kata akhir, pada umumnya mengesan dan dihayati oleh mereka yang mendengarnya atau mengasihi orang yang akan meninggal dunia tersebut. Kami percaya bahwa kita mengimani dan mengasihi Stefanus, maka marilah kita hayati doa Stefanus tersebut dalam hidup dan kerja kita sehari-hari dimana pun dan kapan pun. Kasih pengampunan itulah yang dimohonkan oleh Stefanus bagi mereka yang membunuhnya. Hemat saya doa ini meneladan Yesus yang akan wafat di kayu salib, dimana Ia juga mendoakan dan mohonkan kasih pengampunan bagi mereka yang telah menganiaya dan menyalibkanNya. Kiranya dalam hidup sehari-hari kita juga sering merasa disakiti atau dilecehkan oleh orang lain, padahal yang bersangkutan belum tentu bermaksud menyakiti atau melecehkan kita, bahkan mereka merasa berjasa dan menjadi pahlawan. Dengan kata lain mereka belum tentu bersalah, melainkan tidak tahu. Maka hendaknya kita jangan terlalu mudah membalas dendam atau memarahi mereka yang menyakiti dan melecehkan kita. Marilah kita sikapi perlakuan mereka sebagai perhatian alias kasih mereka kepada kita, maka hendaknya ditanggapi dengan kata singkat `terima kasih'. Jika mereka tidak mengasihi kita, maka kita akan didiamkan saja, tetapi karena mereka mengasihi kita maka memberi komentar atau perlakuan tertentu yang menurut kata hatinya merupakan perbuatan baik. Dengan kata lain kami mengajak dan mengingatkan kita semua: hendaknya kita hidup dan bertindak saling mengasihi dan mengampuni dimana pun dan kapan pun. Ingatlah dan sadari serta hayati bahwa masing-masing dari kita telah menerima kasih pengampunan dari Tuhan secara melimpah ruah melalui saudara-saudari kita, maka selayaknya kita hidup saling mengampuni dan mengasihi.

"Jadilah bagiku gunung batu tempat perlindungan, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku! Sebab Engkau bukit batuku dan pertahananku, dan oleh karena nama-Mu Engkau akan menuntun dan membimbing aku." (Mzm 31:3c-4)

Ign 16 April 2013

Tidak ada komentar: