Rabu, 08 Februari 2012

“Pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." (1Raj 11:4-13; Mrk 7:24-30)

“Pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."
(1Raj 11:4-13; Mrk 7:24-30)
“ Lalu Yesus berangkat dari situ dan pergi ke daerah Tirus. Ia masuk ke sebuah rumah dan tidak mau bahwa ada orang yang mengetahuinya, tetapi kedatangan-Nya tidak dapat dirahasiakan. Malah seorang ibu, yang anaknya perempuan kerasukan roh jahat, segera mendengar tentang Dia, lalu datang dan tersungkur di depan kaki-Nya. Perempuan itu seorang Yunani bangsa Siro-Fenisia. Ia memohon kepada Yesus untuk mengusir setan itu dari anaknya. Lalu Yesus berkata kepadanya: "Biarlah anak-anak kenyang dahulu, sebab tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing." Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak." Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu." Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah
keluar.” (Mrk 7:24-30), demikian kutipan Warta Gembira hari ini. 
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Hidup dijiwai oleh iman memang merupakan dambaan semua orang, tanpa pandang bulu. Namun dalam kenyataan memang tidak mudah: ada orang mengaku diri sungguh beriman dan beragama tetapi dalam kenyataan hidup, dalam cara hidup dan cara bertindak jauh dari apa yang diakuinya. Dengan kata lain pengakuannya hanya manis di mulut dan tidak sampai pada penghayatan dalam cara hidup dan cara bertindak. Perempuan dari Yunani yang datang kepada Yesus untuk mohon penyembuhan anaknya yang kerasukan setan merupakan contoh yang baik untuk kita renungkan dan tiru. Orang-orang Yunani masa itu kiranya dikenal sebagai orang-orang yang unggul dalam hal otak atau berpikir, sehingga terjebak ke kepercayaan pada apa yang dapat dipikirkan alias difahami oleh pikiran manusia. Hal ini kiranya juga terjadi pada sementara orang masa kini, yang begitu percaya dan mengandalkan diri pada apa yang dapat dipikirkan dan difahami secara manusia serta kurang percaya pada
Penyelenggaraan Ilahi/Tuhan. Dengan kata lain sedikit banyak mereka lebih dikuasai oleh setan daripada Tuhan. Sabda Yesus kepada perempuan dari Yunani "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu.", mengajak dan memanggil kita untuk sungguh menghayati iman kita, tidak hanya manis di mulut saja. Iman harus menjadi nyata dalam tindakan atau perilaku. Jika cara hidup dan cara bertindak kita sungguh dijiwai oleh iman kita, maka kita akan mampu mengatasi aneka masalah, tantangan dan hambatan maupun setan yang menguasai dan menjiwai manusia. Kata-kata yang lahir dari orang yang sungguh beriman mampu menyehatkan dan menyembuhkan mereka yang sakit dan kerasukan setan. 
·   "Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya. Namun demikian, kerajaan itu tidak seluruhnya akan Kukoyakkan dari padanya, satu suku akan Kuberikan kepada anakmu oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem yang telah Kupilih." (1Raj 11:11-13), demikian sabda Tuhan kepada raja Salomo. Sabda ini kiranya baik untuk direnungkan atau direfleksikan bagi siapapun yang merasa menjadi pemimpin, di tingkat  maupun bidang kehidupan apa pun dan di mana pun. Pemimpin hendaknya “berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan yang telah diperintahkan Tuhan”. Ketika diangkat menjadi pemimpin pada umumnya yang bersangkutan berjanji
untuk melayani yang dipimpin serta mendambakan dapat menjadi teladan atau inspirator yang baik bagi mereka melalui  cara hidup dan cara bertindak yang baik, yang bermoral atau berbudi pekerti luhur. Ia juga berjanji (paling tidak dalam hati) untuk senantiasa setia pada kehendak dan perintah Tuhan serta ketetapan-ketetapanNya. Kehendak Tuhan antara lain menggejala dalam orang-orang yang berkehendak baik, yang memiliki ketulusan hati untuk senantiasa mencari Tuhan. Maka kami berharap para pemimpin dengan rendah hati mendengarkan kehendak-kehendak baik dari yang dipimpin, kemudian mengolah dan menanggapi dalam bentuk pelayanan kepada mereka. Kami percaya jika pemimpin sungguh mendengarkan dengan rendah hati apa yang hidup dan terjadi dalam lingkungan hidup dan karyanya, maka akan terjadilah persaudaraan sejati sehingga tak akan terjadi perpecahan dalam hidup bersama. Salah satu fungsi pemimpin adalah pemersatu: menyatukan semua yang dipimpin dalam derap
langkah pelayanan bersama. 
“Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!Ingatlah aku, ya TUHAN, demi kemurahan terhadap umat-Mu, perhatikanlah aku, demi keselamatan dari pada-Mu” (Mzm 106:3-4)
Ign 9 Februari 2012

Tidak ada komentar: