Selasa, 07 Februari 2012

“Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya” (1Raj 10:1-10; Mrk 7:14-23)

“Apa yang keluar dari seseorang itulah yang menajiskannya”
(1Raj 10:1-10; Mrk 7:14-23)
“Lalu Yesus memanggil lagi orang banyak dan berkata kepada mereka: "Kamu semua, dengarlah kepada-Ku dan camkanlah. Apa pun dari luar, yang masuk ke dalam seseorang, tidak dapat menajiskannya, tetapi apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya." [Barangsiapa bertelinga untuk mendengar hendaklah ia mendengar!] Sesudah Ia masuk ke sebuah rumah untuk menyingkir dari orang banyak, murid-murid-Nya bertanya kepada-Nya tentang arti perumpamaan itu. Maka jawab-Nya: "Apakah kamu juga tidak dapat memahaminya? Tidak tahukah kamu bahwa segala sesuatu dari luar yang masuk ke dalam seseorang tidak dapat menajiskannya, karena bukan masuk ke dalam hati tetapi ke dalam perutnya, lalu dibuang di jamban?" Dengan demikian Ia menyatakan semua makanan halal. Kata-Nya lagi: "Apa yang keluar dari seseorang, itulah yang menajiskannya, sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan,
kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan. Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang.” (Mrk 7:14-23), demikian kutipan Warta Gembira hari ini
Berrefleksi atas bacaan-bacaan hari ini saya sampaikan catatan-catatan sederhana sebagai berikut:
·   Yang keluar dari seseorang antara lain: kata-kata melalui mulut, keringat melalui kulit, air seni/ kencing melaui alat kelamin dan tinja melalui dubur. Apa yang keluar tersebut pada umumnya berbau, tidak sedap dan tidak enak. Dari anggota-anggota tubuh di atas juga dapat muncul percabulan atau perzinahan, sedangkan “dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan”. Sabda hari ini mengingatkan kita agar dari hati kita timbul apa yang sebaliknya, yaitu pikiran dan perbuatan baik atau segala tingkah laku yang membuat tubuh, hati, pikiran dan jiwa kita semakin suci, bersih dari aneka macam dosa. Dengan kata lain kita diharapkan senantiasa berpikiran positif terhadap saudara-saudari dan lingkungan kita maupun aneka macam peristiwa yang sedang terjadi, sebagaimana sering muncul dari mulut orang-orang Jawa yang baik
ketika melihat sesuatu peristiwa, misalnya: ada orang jatuh, untung tidak patah kakinya, terlambat datang, untung tetap hadir dst.. Maka dengan ini kami berharap secara khusus kepada rekan-rekan laki-laki: ketika melihat gadis cantik, ayu, berpakaian bagus dst.. hendaknya tidak berpikiran cabul atau zinah, melainkan memuji Allah. Kepada kita semua: hendaknya ketika melihat uang atau barang berharga tertinggal tidak lalu berpikiran jahat untuk memilikinya, melainkan segera mengusahakan siapa pemiliknya serta menyerahkannya.
·   “Berbahagialah para isterimu, berbahagialah para pegawaimu ini yang selalu melayani engkau dan menyaksikan hikmatmu! Terpujilah TUHAN, Allahmu, yang telah berkenan kepadamu sedemikian, hingga Ia mendudukkan engkau di atas takhta kerajaan” (1Raj 10:8-9), demikian pujian ratu Syeba kepada raja Salomo. Apa yang dilakukan oleh ratu Syeba kepada raja Salomo ini kiranya merupakan contoh yang baik untuk kita tiru dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Melihat atau menyaksikan keberhasilan atau kesuksesan orang lain hendaknya langsung memujinya bukan iri hati. Pujian macam itu hendaknya juga senantiasa dilakukan oleh para orangtua kepada anak-anaknya, para guru/pendidik kepada para murid/peserta didiknya, para pemimpin kepada para anggotanya, para atasan kepada para bawahannya dst.. Sikap mental demikian merupakan perwujudan kita dalam berpartisipasi di dalam karya Penciptaan Allah atau Penyelenggaraan Ilahi,
yang bersifat menumbuh-kembangkan alias berbudaya kehidupan bukan berbudaya kematian. Jika kita ragu-ragu untuk memberi pujian kepada orang lain, kiranya juga dapat belajar dari ratu Syeba, yang menguji raja Salomo dengan aneka pertanyaan. Sebaliknya kepada mereka yang merasa sedang diuji hendaknya meneladan raja Salomo yang tidak menyembunyikan sesuatu apapun akan apa yang dilakukan atau dialami alias jujur, terbuka apa adanya dan tak ada sedikitpun yang ditutup-tutupi. Terbuka apa adanya serta tidak ada yang ditutupi sedikitpun bagaikan suami-isteri atau laki-laki dan perempuan yang sedang memadu kasih atau berhubungan seksual sebagai wujud saling mengasihi secara total itulah yang diharapkan dari kita semua, umat beriman atau beragama. Marilah kita saling memuji karena anugerah Tuhan yang telah dicurahkan kepada kita secara melimpah ruah.
“ Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang. Mulut orang benar mengucapkan hikmat, dan lidahnya mengatakan hukum; Taurat Allahnya ada di dalam hatinya, langkah-langkahnya tidak goyah”(Mzm 37:5-6.30-31)
Ign.8 Februari 2012

Tidak ada komentar: