Selasa, 10 April 2012

Mengapa kamu seorang Katolik?


Setiap orang Katolik sepatutnya dapat memberikan 
suatu jawaban yang mantap dan mendalam atas 
pertanyaan, “Mengapa kamu seorang Katolik?” 
Tentu saja, bagi tiap-tiap individu,
jawabannya bersifat amat pribadi dan mungkin 
agak berbeda dari jawaban orang lain. 
Saya harap, tak seorang pun dari kita yang telah 
dewasa akan sekedar menjawab, 
“Yah, karena orangtua membaptisku Katolik” atau 
“Aku dibesarkan secara Katolik” atau
“Keluargaku semuanya Katolik.”
Bukan. 
Bagi masing-masing kita, jawabannya haruslah 
pribadi, dari lubuk hati dan penuh keyakinan. 
Saya akan memberikan jawaban saya atas 
pertanyaan ini.

Pertama-tama, saya akan mengatakan bahwa saya 
seorang Katolik karena inilah Gereja yang didirikan 
Yesus Kristus. 
Sejarahwan paling ahli sekalipun akan harus 
mengakui bahwa Gereja Kristen pertama yang ada 
sejak jaman Kristus adalah Gereja Katolik Roma. 
Perpecahan besar pertama dalam kekristenan baru 
muncul pada tahun 1054, ketika Patriark 
Konstantinopel berselisih dengan paus atas siapa 
yang lebih berwenang; sang Patriark 
mengekskomunikasi paus, yang ganti 
mengekskomunikasi Patriark, dan lahirlah 
Gereja-gereja “Orthodox”. 
Kemudian, pada tahun 1517, Martin Luther memicu 
gerakan Protestan, dan ia diikuti oleh Calvin,
Zwingli dan Henry VIII. 
Sejak itu, Protestanisme telah terpecah-pecah 
menjadi banyak Gereja-gereja Kristen lainnya.

Namun demikian, satu-satunya Gereja dan Gereja 
Kristen pertama yang didirikan Kristus adalah 
Gereja Katolik. 
Pernyataan ini tidak berarti bahwa tidak ada 
kebaikan dalam Gereja-gereja Kristen lainnya. 
Tidak pula berarti bahwa orang-orang Kristen 
lainnya tidak dapat masuk surga.
Tetapi, sungguh berarti bahwa ada sesuatu yang
istimewa mengenai Gereja Katolik. 
Konsili Vatican II dalam “Konstitusi Dogmatis 
tentang Gereja” memaklumkan bahwa kepenuhan 
dari sarana-sarana keselamatan ada dalam Gereja 
Katolik sebab inilah Gereja yang didirikan Kristus 
(No. 8).

Alasan kedua mengapa saya seorang Katolik ialah 
karena suksesi apostolik. 
Yesus mempercayakan otoritas-Nya kepada 
para rasul.
Ia memberikan otoritas khusus kepada Petrus,
yang disebut-Nya sebagai “batu karang” dan 
kepada siapa Ia mempercayakan kunci 
Kerajaan Allah. 
Sejak jaman para rasul, otoritas ini telah diwariskan 
melalui Salramen Imamat dari uskup ke uskup, 
dan kemudian diperluas ke imam dan diakon. 
Uskup kita sendiri, andai mau, dapat menelusuri 
kembali otoritasnya sebagai seorang uskup hingga
ke jaman para rasul.
Bulan Mei yang lalu, diadakan tahbisan imamat 
di katedral kita. 
Dalam tahbisan suci itu, Bapa Uskup 
menumpangkan tangannya ke atas kepala calon 
imam yang akan ditahbiskan. 
Dalam saat khidmad itu, suksesi apostolik 
diwariskan. 
Dalam terang iman, orang dapat melihat bukan saja 
Bapa Uskup, melainkan St Petrus dan St Paulus, 
bahkan Yesus Sendiri, menyampaikan tahbisan suci.
Tidak ada uskup, imam ataupun diakon dalam 
Gereja kita yang menahbiskan dirinya sendiri 
atau memproklamirkan dirinya sendiri; tetapi otoritas 
itu berasal dari Yesus Sendiri dan dijaga oleh 
Gereja.

Alasan ketiga mengapa saya seorang Katolik adalah
karena kita percaya akan kebenaran,
yakni kebenaran mutlak yang diberikan oleh
Tuhan Sendiri. 
Kristus menyebut Diri-Nya sebagai “jalan dan
kebenaran dan hidup” (Yoh 14:6).
Ia menganugerahkan kepada kita Roh Kudus, 
yang disebut-Nya Roh Kebenaran (Yoh 14:17), 
yang akan mengajarkan segala sesuatu kepada 
kita dan yang akan mengingatkan kita akan semua
yang telah Ia ajarkan (Yoh 14:26).
Kebenaran Kristus telah dipelihara dalam
Kitab Suci. 
Konsili Vatican II dalam “Konstitusi Dogmatis
tentang Wahyu Ilahi” memaklumkan bahwa,
“segala sesuatu, yang dinyatakan oleh para 
pengarang yang ilhami atau hagiograf (penulis suci),
harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus, 
maka harus diakui, bahwa Kitab Suci mengajarkan
dengan teguh dan setia serta tanpa kekeliruan 
kebenaran, yang oleh Allah dikehendaki supaya
dicantumkan dalam kitab-kitab suci demi
keselamatan kita” (No. 11). 
Kebenaran ini terus dipelihara dan diterapkan pada
suatu masa dan budaya tertentu oleh magisterium, 
yakni otoritas mengajar Gereja.
Sementara kita menghadapi berbagai macam issue 
seperti bioetika atau euthanasia - masalah-masalah 
yang tak pernah dibicarakan secara spesifik dalam 
Kitab Suci - betapa beruntungnya kita mempunyai 
Gereja yang mengatakan “Cara hidup seperti ini 
adalah benar atau cara ini salah menurut 
kebenaran Kristus.” 
Tak heran, Gereja Katolik menjadi berita utama 
di surat-surat kabar; kita adalah satu-satunya 
Gereja yang berpendirian tegas dan mengatakan, 
“Ajaran ini adalah benar selaras dengan pemikiran 
Kristus.”

Alasan lain mengapa saya seorang Katolik adalah 
karena sakramen-sakramen kita. 
Kita percaya akan ketujuh sakramen yang 
dianugerahkan Yesus kepada Gereja. 
Masing-masing sakramen menangkap suatu unsur 
penting dari kehidupan Kristus, dan melalui kuasa 
Roh Kudus mendatangkan bagi kita keikutsertaan 
dalam kehidupan ilahi Allah. 
Sebagai contoh, coba renungkan betapa anugerah 
mahaberharga kita boleh menyambut Ekaristi Kudus, 
Tubuh dan Darah Tuhan kita, atau menyadari 
bahwa dosa-dosa kita telah sungguh diampuni dan
jiwa kita dipulihkan setiap kali kita menerima 
absolusi dalam Sakramen Tobat.

Dan yang terakhir, saya seorang Katolik karena 
orang-orang yang membentuk Gereja. 
Saya mengenangkan begitu banyak para kudus: 
St Petrus dan St Paulus yang memelihara agar 
Injil hidup pada masa-masa awali. 
Pada masa penganiayaan Romawi, para martir awal 
Gereja - seperti St Anastasia, St Lusia, St Yustinus 
atau St Ignatius dari Antiokhia, yang pada tahun 
100 menyebut Gereja “Katolik” - membela iman dan
menderita aniaya maut karenanya. 
Pada Abad-abad Kegelapan, ketika banyak hal 
sungguh “gelap”, memancarlah terang yang 
benderang dari St Fransiskus, St Dominikus dan 
St Katarina dari Siena. 
Pada masa gerakan Protestan, ketika bidaah 
mengoyak Gereja, Gereja dibela oleh St Robertus 
Bellarmino dan St Ignatius Loyola, 
para reformator sejati. 
Saya berpikir mengenai para kudus yang hidup 
di jaman kita, seperti Mother  Teresa atau Paus 
Yohanes Paulus II, yang dari hari ke hari 
melakukan karya kudus Allah. 
Ada begitu banyak para kudus yang mengilhami 
masing-masing kita untuk menjadi warga Gereja 
yang baik.

Tetapi ada mereka-mereka yang lain juga. 
Pada waktu Misa, arahkanlah pandangan 
ke sekeliling gerejamu.
Lihatlah pasangan-pasangan suami isteri yang 
berjuang untuk mengamalkan Sakramen Perkawinan 
dalam abad yang memperturutkan hawa nafsu dan 
perselingkuhan. 
Lihatlah orang-orangtua yang rindu mewariskan
iman kepada anak-anak mereka. 
Lihatlah kaum muda yang berjuang untuk 
mengamalkan iman kendati dunia yang penuh 
pencobaan. 
Lihatlah kaum lanjut usia yang tetap setia kendati 
perubahan-perubahan dalam dunia dan Gereja. 
Lihatlah para imam dan kaum religius yang 
membaktikan hidup mereka demi melayani Tuhan 
dan Gereja-Nya. 
Ada begitu banyak orang yang membentuk Gereja
kita.

Ya, tak seorang pun sempurna. Kita berdosa. 
Itulah sebabnya mengapa salah satu doa terindah 
dalam Perayaan Misa dipanjatkan sebelum tanda 
damai; kita berdoa, “Tuhan Yesus Kristus, 
jangan memperhitungkan dosa kami, 
tetapi perhatikanlah iman Gereja-Mu.” 
Ya, kendati segala kelemahan manusia, Gereja,
sebagai lembaga yang didirikan oleh Kristus,
terus melaksanakan misi-Nya di dunia ini.

Singkat kata, itulah alasan-alasan mengapa saya 
seorang Katolik dan seorang warga Gereja Katolik 
Roma. Alasan-alasan ini bukanlah asal.
Melainkan, mencerminkan permenungan mendalam 
dan pergulatan, setelah dibaptis Katolik, 
setelah melewatkan masa pendidikan di sekolah 
St Bernadette, setelah lulus dari SMA West 
Springfield, dan setelah pergumulan sengit dengan
iman sepanjang hari-hari perkuliahan di William 
and Mary dan kemudian di Seminari. 
Saya harap setiap orang Katolik dapat dengan 
bangga memberikan suatu jawaban yang jelas 
dan mendalam atas pertanyaan, 
“Mengapa kamu seorang Katolik?”

* Fr. Saunders is dean of the Notre Dame Graduate
School of Christendom College and pastor of 
Queen of Apostles Parish, both in Alexandria. 

sumber : “Straight Answers: 'Why Are You A Catholic?'” 
by Fr. William P. Saunders; Arlington Catholic Herald, Inc; Copyright ©1997 Arlington Catholic Herald, Inc.
All rights reserved; www.catholicherald.com

“diterjemahkan oleh YESAYA: www.indocell.net/yesaya 
atas ijin The Arlington Catholic Herald.”

Tidak ada komentar: